Bismillahirahmanirrahiim...
Air adalah salah satu kebutuhan vital hidup kita.Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari AIR yang paling mendasar adalah sifatnya yang selalu mencari tempat yang rendah. Hal ini merupakan suatu isyarat bagi kita, bahwa dalam hidup ini manusia seharusnya tidak berpatah arang dalam berusaha menggapai cita-citanya. "Dimana ada kemauan, disitu pasti ada jalan", begitu pepatah mengatakan.
Kita mendapati, betapa istiqomahnya air dalam menempuh perjalanan untuk mencapai tempat yang rendah. Dari tempat yang tinggi, air meluncur membelah bumi hingga menjadi aliran yang kita sebut sungai. Disitu air mengalir bebas menuju tempat rendah mana saja yang ia sukai. Tidak jarang air itu secara beramai-ramai mengalir, menghantam, atau menghanyutkan apa saja yang mengganggu perjalannya. Dengan tekadnya, dia terus berusaha menuju tempat yang rendah.
Kalau ia menemui onggokan tanah yang kuat atau apa saja yang menghalangi perjalanannya, maka ia akan membuat manuver dengan membuat kelokan dan mencari jalan alternatif, atau berpisah dengan kawan-kawannya melingkari penghalang itu, yang akhirnya terjadi dua aliran. Sepintas aliran itu terlihat saling bercerai, tapi kalau kita jeli, itu merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuannya.
Bila rintangan itu bendungan kokoh maka ia akan membuat kumpulan yang nantinya sebagian diantara mereka tidak dapat terbendung lagi, dengan begitu ia dapat meneruskan perjalanannya. Dan andaipun kumpulannya kurang, ia akan mencari jalan lain yaitu menguap. Ia akan berkumpul bersama diangkasa dalam gumpalan awan, dan apabila telah mencapai titik kulminasinya, ia akan membentuk titik-titik hujan. Semakin tebal awan itu, semakin lebat pula hujan yang turun. Dengan begitu ia akan mencapai tempat tujuannya, yaitu tempat yang rendah.
Betapa besarnya pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa perjalanan air itu, yakni kosistensinya, dan tak mengenal putus asa dalam mencapai tujuannya. Dan sifat itu pula yang semestinya senantiasa menjiwai diri kita.
Imam Syafi'i dalam salah satu syairnya, menjadikan dinamika sifat air ini sebagai suatu bukti bahwa dalam bergerak dan beraktifitas akan ada kebaikan, dalam diam dan tanpa karya akan banyak kerugian dan kerusakan.
Alhamdulillahi Rabbil Alamiin,,,
Sesungguhnya Hak Cipta adalah Milik ALLAH SWT semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.
Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul Khairat
"DAN SEINDAH HIASAN ADALAH WANITA SHOLEHAH."
Kamis, 17 November 2011
Minggu, 24 Juli 2011
Kesakitan dan penderitaan
Bismillahirahmanirrahiim...
Kesakitan dan penderitaan tidak selalu bermakna negatif. Adakalanya dan lebih sering terjadi kesakitan dan penderitaan itu ada untuk memelihara kelangsungan hidup kita. Lapar dan haus adalah penderitaan. Tapi dengan lapar dan haus itulah kita berusaha memenuhi kebutuhan tubuh kita terhadap makanan dan minuman, yang dengannya keberadaan kita terpelihara. Luka dan nyeri itu adalah kesakitan. Namun dengan luka dan nyeri yang kita rasakan itulah kita menjaga tubuh kita. Bayangkan, jika tak ada rasa nyeri, mungkin kita akan musnah karena ketika sesuatu membakar atau melukai dan merusak tubuh kita, kita tak bereaksi untuk menjaga tubuh kita karena ketidak sadaran kita. Maka, kesakitan dan penderitaan itu ada lebih sering untuk memelihara kita. Lebih dari itu, ia ada untuk menempa kita menjadi sesuatu yang lebih baik, kuat mental dan tahan banting.
Alhamdulillahi Rabbil Alamiin,,,
Kesakitan dan penderitaan tidak selalu bermakna negatif. Adakalanya dan lebih sering terjadi kesakitan dan penderitaan itu ada untuk memelihara kelangsungan hidup kita. Lapar dan haus adalah penderitaan. Tapi dengan lapar dan haus itulah kita berusaha memenuhi kebutuhan tubuh kita terhadap makanan dan minuman, yang dengannya keberadaan kita terpelihara. Luka dan nyeri itu adalah kesakitan. Namun dengan luka dan nyeri yang kita rasakan itulah kita menjaga tubuh kita. Bayangkan, jika tak ada rasa nyeri, mungkin kita akan musnah karena ketika sesuatu membakar atau melukai dan merusak tubuh kita, kita tak bereaksi untuk menjaga tubuh kita karena ketidak sadaran kita. Maka, kesakitan dan penderitaan itu ada lebih sering untuk memelihara kita. Lebih dari itu, ia ada untuk menempa kita menjadi sesuatu yang lebih baik, kuat mental dan tahan banting.
Alhamdulillahi Rabbil Alamiin,,,
Kamis, 26 Mei 2011
explanation about love relationship of non-blood relatives
Bismillahirahmanirrahiim...
Sakinah terambil dari akar kata sakana yang berarti diam/tenangnya sesuatu setelah bergejolak. Itulah sebabnya mengapa pisau dinamai sikkin karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah tadinya ia meronta. Sakinah--karena perkawinan--adalah ketenangan yang dinamis dan aktif, tidak seperti kematian binatang.
Mawaddah, tersusun dari huruf-huruf m-w-d-d-, yang maknanya berkisar pada kelapangan dan kekosongan. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Dia adalah cinta plus. Bukankah yang mencintai, sesekali hatinya kesal sehingga cintanya pudar, bahkan putus. Tetapi yang bersemai dalam hati mawaddah, tidak lagi akan memutuskan hubungan, seperti yang bisa terjadi pada orang yang bercinta. Ini disebabkan hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan sehingga pintu-pintunya pun telah tertutup sehingga tidak dapat dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungkin datang dari pasangannya).
Rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan sehingga mendorong yang bersangkutan untuk memberdayakannya. Karena itu dalam kehidupan keluarga, masing-masing suami dan istri akan bersungguh-sungguh mendatangkan kebaikan bagi pasangannya serta menolak yang mengganggu dan mengeruhkannya.
Al-Qur'an menggarisbawahi hal ini dalam rangka jalinan perkawinan karena betapapun hebatnya seseorang, ia pasti memiliki kelemahan, dan betapapun lemahnya seseorang, pasti ada juga unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari keadaan demikian, sehingga suami dan istri harus berusaha untuk saling melengkapi.
"Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka." [2:187]
Ayat ini tidak hanya mengisyaratkan bahwa suami istri saling membutuhkan sebagaimana kebutuhan manusia pada pakaian, tetapi juga berarti bahwa suami istri--yang masing-masing menurut kodratnya memiliki kekurangan--harus dapat berfungsi 'menutup kekurangan pasangannya', sebagaimana pakaian menurut aurat pemakainya.
Pernikahan adalah amanah. Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena kepercayaan bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara dengan baik, serta keberadaannya aman di tangan yang diberi amanat itu.
Tidak mungkin orangtua dan keluarga masing-masing akan merestui perkawinan tanpa adanya rasa percaya dan aman itu. Suami--demikian juga istri--tidak akan menjalin hubungan tanpa merasa aman dan percaya kepada pasangannya.
Kesediaan seorang istri untuk hidup bersama dengan seorang lelaki, (adalah) meninggalkan orangtua dan keluarga yang membesarkannya, dan 'mengganti' semua itu dengan penuh kerelaan untuk hidup bersama lelaki 'asing' yang menjadi suaminya, serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam. Semua itu merupakan hal yang sungguh mustahil, kecuali jika ia merasa yakin bahwa kebahagiaannya bersama suami akan lebih besar dibandingkan dengan kebahagiaannya dengan ibu bapak, dam pembelaan suami terhadapnya tidak kurang dari pembelaan saudara-saudara sekandungnya. Keyakinan inilah yang dituangkan istri kepada suaminya dan itulah yang dinamai al-Qur'an sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang amat kokoh) [4:21].
Cinta kasih, mawaddah, dan rahmah yang dianugerahkan Allah kepada sepasang suami istri adalah untuk satu tugas yang berat tetapi mulia. Malaikat pun berkeinginan untuk melaksanakannya, tetapi kehormatan itu diserahkan Allah kepada manusia.
Alhamdulillahi Rabbil Alamiin,,,
Sakinah terambil dari akar kata sakana yang berarti diam/tenangnya sesuatu setelah bergejolak. Itulah sebabnya mengapa pisau dinamai sikkin karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah tadinya ia meronta. Sakinah--karena perkawinan--adalah ketenangan yang dinamis dan aktif, tidak seperti kematian binatang.
Mawaddah, tersusun dari huruf-huruf m-w-d-d-, yang maknanya berkisar pada kelapangan dan kekosongan. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Dia adalah cinta plus. Bukankah yang mencintai, sesekali hatinya kesal sehingga cintanya pudar, bahkan putus. Tetapi yang bersemai dalam hati mawaddah, tidak lagi akan memutuskan hubungan, seperti yang bisa terjadi pada orang yang bercinta. Ini disebabkan hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan sehingga pintu-pintunya pun telah tertutup sehingga tidak dapat dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungkin datang dari pasangannya).
Rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan sehingga mendorong yang bersangkutan untuk memberdayakannya. Karena itu dalam kehidupan keluarga, masing-masing suami dan istri akan bersungguh-sungguh mendatangkan kebaikan bagi pasangannya serta menolak yang mengganggu dan mengeruhkannya.
Al-Qur'an menggarisbawahi hal ini dalam rangka jalinan perkawinan karena betapapun hebatnya seseorang, ia pasti memiliki kelemahan, dan betapapun lemahnya seseorang, pasti ada juga unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari keadaan demikian, sehingga suami dan istri harus berusaha untuk saling melengkapi.
"Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka." [2:187]
Ayat ini tidak hanya mengisyaratkan bahwa suami istri saling membutuhkan sebagaimana kebutuhan manusia pada pakaian, tetapi juga berarti bahwa suami istri--yang masing-masing menurut kodratnya memiliki kekurangan--harus dapat berfungsi 'menutup kekurangan pasangannya', sebagaimana pakaian menurut aurat pemakainya.
Pernikahan adalah amanah. Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena kepercayaan bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara dengan baik, serta keberadaannya aman di tangan yang diberi amanat itu.
Tidak mungkin orangtua dan keluarga masing-masing akan merestui perkawinan tanpa adanya rasa percaya dan aman itu. Suami--demikian juga istri--tidak akan menjalin hubungan tanpa merasa aman dan percaya kepada pasangannya.
Kesediaan seorang istri untuk hidup bersama dengan seorang lelaki, (adalah) meninggalkan orangtua dan keluarga yang membesarkannya, dan 'mengganti' semua itu dengan penuh kerelaan untuk hidup bersama lelaki 'asing' yang menjadi suaminya, serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam. Semua itu merupakan hal yang sungguh mustahil, kecuali jika ia merasa yakin bahwa kebahagiaannya bersama suami akan lebih besar dibandingkan dengan kebahagiaannya dengan ibu bapak, dam pembelaan suami terhadapnya tidak kurang dari pembelaan saudara-saudara sekandungnya. Keyakinan inilah yang dituangkan istri kepada suaminya dan itulah yang dinamai al-Qur'an sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang amat kokoh) [4:21].
Cinta kasih, mawaddah, dan rahmah yang dianugerahkan Allah kepada sepasang suami istri adalah untuk satu tugas yang berat tetapi mulia. Malaikat pun berkeinginan untuk melaksanakannya, tetapi kehormatan itu diserahkan Allah kepada manusia.
Disarikan dari Wawasan al-Qur'an oleh M. Quraish Shihab.
dan ditulis kembali dari note salah seorang akhwat
Alhamdulillahi Rabbil Alamiin,,,
Langganan:
Postingan (Atom)
